Tersesat Ketika Menuju Podgorica (5)


image_pdfimage_print

Kroasia 4 Sept. 2018. Setelah kami memutar kota Split dan sarapan segera kami persiapkan motor kearah Podgorica. Ini adalah perjalanan yang terpanjang,  (450 km). Kami arahkan motor kami ke Dubrovnic. Perjalanan kami kali ini tidak membosankan karena di Kroasia tidak ada kamera pengintai kecepatan. Memang di beberapa tempat terlihat polisi memantau arus lalulintas di tempat tempat yang rawan.

 

Kami melewati makarska kota pantai yang cantik dan kami terus menyusuri pantai hingga Dubrovnik.  Kroasia sekarang sangat maju dengan infrastruktur yang luar biasa tertata.

Kami juga sempat berhenti di gradac dan kami sempat berfoto disini sebelum kami jalan ke dubrovnik. Kira kira 10 km dari Gradac kami memutuskan makan siang. Pilihan fine dining mengakibatkan waktu molor menjadi cukup panjang. Kita menghabiskan waktu hampir 2 jam hanya untuk makan siang. Setelah itu kami meluncur ke Dubrovnik dalam arah kami menuju Podgorica di Montenegro.

Dubrovnik adalah sebuah kota di Kroasia selatan yang menghadap laut Adriatik. Kota yang berbenah menjadi kota cantik ini di kelilingi dengan dinding batu besar yang diselesaikan pada abad 16. Beruntung peninggalan ini tidak hancur karena perang saudara yang terjadi di tahun 1990 an. Ada dinding besar yang diselesaikan pada abad ke 16 dan sekarang masih teawat baik seperti Gereja Blaise Baroque hingga Renaissance Sponza Palace dan Ghotic Rector Palace yang sekarang menjadi museum sejarah. Sayang kami tidak sempat mampir karena keterbatasan waktu.

Dubrovnik dahulunya hancur karena perang, dimana pada tahun 1991, perang Yugoslavia pecah Dubrovnik dikepung oleh tentara Serbia dan Montenegro. Tapi sekarang kota ini berubah menjadi kota yang bagus dan maju sekali. 

kira kira 5 km setelah kota kami mengambil kiri kearah border. Hari sudah semakin sore dan lambat laun matahari pun menghilang. Waktu menunjukan jam 19.00 Kami memasuki border Bosnia _ Herzegovina. Pemeriksaan dokumen mulai dilakukan dan saya paling duluan. Saat pemeriksaan dokumen mereka mendapati bahwa motor yang saya pakai tidak ada green card,  demikian pula 6 motor lainnya. Sempat kami disuruh kembali ke Croatia. Saya tanyakan bagaimana syaratnya agar bisa masuk ke Bosnia. Dia bilang bahwa kita harus bayar ijin kendaraan motor dan asuransi kendaraan sebesar 30 EUR. Akhirnya kami memilih membayar asuransi tersebut dan kami menunggu petugas asuransinya datang dari kota terdekat. Cukup lama kami menunggu sehingga akhirnya gelap pun datang. Setelah selesai kami segera tancap gas kearah trebinje. Perjalanan masih jauh dan saat tiba di trebinje rombongan kembali terpecah. 7 orang ikut andrea sedangkan sisanya ikut saya.  Terpaksa saya mengikuti offline maps Sygic yang sudah saya set di motor saya. Sygic menunjukan jalan yang pendek, saya sempat ragu apakah benar arah yang dituju. Sempat kita kesasar dan Sygic menunjukan salah arah jalan kerumah orang sampai orangnya kaget ada rombongan motor yang tidak bisa bahasa Bosnia. 

Ternyata arah jalan yang dimaksud berdempetan dengan jalan yang kerumah orang tersebut. Tetapi kembali saya ragu meneruskan karena jalannya hanya cukup satu mobil dan menyusuri sungai dan hutan yang sangat lebat.  Saya lihat kembali GPS, kita bandingkan dengan GPS Michael yang dia bawa ternyata arahnya sama. Akhirnya kita lanjut dan sekitar 1 jam kemudian kita menemukan jalan besar dan border hanya 1/2 jam dari situ.  Saya berpikir bahwa kami ketinggalan jauh, kamipun bertiga mencap di border montenegro. Ternyata setelah selesai ngecap rombongan Andrea mendekati boder dan selisih hampir 1 jam dengan saya.

Karena sudah gelap, saya memutuskan maju kedepan bertiga, saya harus duluan sampai hotel karena saya harus memastikan bookingan kamar di Ramada Podgorica. Saya harus mempersiapkan kunci kamar dan makan malam teman teman.

Jalanan sangat bagus dan Malam yang dingin itu kecepatan saya kembangkan sampai 140 km perjam, ternyata Johandi dan Bagoes Sadono sepertinya lebih dari 160 kpj. Lambat laun saya tertinggal karena motor saya tidak bisa mengikuti GS1200 K50, juga karena saya mengendarai F800 GSA yang jangkung.

Ada kelemahan F800 ini, dimana kalau nikung motor ini serasa mau jatuh. Hal ini terjadi karena berat motor ini cenderung ke belakang sehingga saat ngerem bobot belakang mendorong kedepan. Namun di medan jelek suspensinya memang sangat top.

Sesampai di Podgorica sekitar jam 1.00 dini hari, saya dikagetkan oleh Johandi dan Bagoes yang ada di belakang saya...lha kenapa posisinya mereka dibelakang padahal saya jauh tertinggal.

Akhirnya touch down hotel, dan ternyata team mobil Shandi Widjaya sudah menyiapkan kamar hotel dan makanan. 

Sekitar 1 jam kemudian team tiba di hotel dan langsung menyantap makanan yang sudah disediakan.

 

CHORVATSKO GRADAC

https://youtu.be/FVyXcSUe5PU

Dubrovnik yang sangat indah

Babahnya rossi

Dikirim oleh Wijaya Kusuma Subroto pada Rabu, 12 September 2018

Kota Podgorica yang sangat sepi
SUPPORTED BY KALIBRE

Ramada Hotel, Terbaik di Podgorica

INFO TERKAIT...